PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-undang Nomor 13Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintahtentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi;

Mengingat : 

1. Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran NegaraTahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);

3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri(Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3346);

4. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (Lembaran NegaraTahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3833);

5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (LembaranNegara Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4152);

6. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan (LembaranNegara Tahun 2002 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4226);

7. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (LembaranNegara Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4279);

8. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor4301);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan: 
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

1. Sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yangdilakukan secara sistematis dan obyektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepadastandar kompetensi kerja nasional Indonesia dan/atau internasional.

2. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerjayang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerjayang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.

BAB II

PEMBENTUKAN DAN TUGAS

Pasal 2

(1)Membentuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut dengan BNSP.

(2)BNSP merupakan lembaga yang independen dalam melaksanakan tugasnya dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Pasal 3

BNSP mempunyai tugas melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.

Pasal 4

(1)Guna terlaksananya tugas sertifikasi kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalamPasal 3, BNSP dapat memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi profesi yangmemenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.

(2)Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara pemberian lisensi lembaga sertifikasiprofesi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh BNSP.


BAB III

ORGANISASI

Bagian Pertama

Keanggotaan

Pasal 5

Susunan keanggotaan BNSP terdiri dari :

a. Seorang Ketua merangkap anggota;

b. Seorang Wakil Ketua merangkap anggota;

c. Sebanyak-banyaknya 23 (dua puluh tiga) orang anggota.

Pasal 6

(1)Keanggotaan BNSP terdiri dari unsur Pemerintah dan unsur masyarakat.

(2)Keanggotaan dari unsur Pemerintah sebanyak-banyaknya 10 (sepuluh) orang.





Pasal 7

Untuk dapat menjadi Anggota BNSP, Calon Anggota BNSP harus memenuhi persyaratan :

a. Warga Negara Indonesia;

b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

c. sehat jasmani dan rohani;

d. sanggup bekerja penuh waktu;

e. tidak pernah dijatuhi hukuman pidana minimal 5 (lima) tahun;

f. memiliki tingkat pendidikan sekurang-kurangnya S1 atau yang setara;

g. memiliki pengalaman kerja di bidang profesi tertentu minimal 5 (lima) tahun;

h. menguasai bahasa asing secara aktif minimal bahasa Inggris.

Bagian Kedua

Komisi

Pasal 8

(1)Untuk menunjang pelaksanaan tugas, BNSP dapat membentuk Komisi sesuai dengankebutuhan yang keanggotaannya berasal dari anggota BNSP.

(2)Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, susunan keanggotaan, tugas, dan tatakerja Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur oleh BNSP.


Bagian Ketiga

Sekretariat

Pasal 9

(1)Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas BNSP dibentuk Sekretariat BNSP.

(2)Sekretariat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipimpin oleh Kepala SekretariatBNSP yang dalam melaksanakan tugasnya secara fungsional bertanggung jawab kepadaBNSP.

(3)Kepala Sekretariat BNSP sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dijabat oleh PejabatPegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan struktural Eselon IIa.


Pasal 10

(1)Sekretariat BNSP dibentuk dan berada di lingkungan instansi Pemerintah yangbertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.


(2)Sekretariat BNSP terdiri dari sebanyak-banyaknya 4 (empat) Bagian dan masing-masingBagian terdiri dari 2 (dua) Sub Bagian.

(3)Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat BNSPsebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri setelahmendapat persetujuan dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaanaparatur negara.


BAB IV

PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN

Pasal 11

Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BNSP diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usulMenteri.

Pasal 12

Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BNSP diangkat untuk 1 (satu) kali masa jabatan selama 5(lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

Pasal 13

(1)Pegawai Negeri Sipil yang diangkat sebagai Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BNSP diberhentikan dari jabatan organiknya.

(2)Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnyasetiap kali setingkat lebih tinggi, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanganyang berlaku.

(3)Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberhentikan denganhormat sebagai Pegawai Negeri Sipil apabila telah mencapai batas usia pensiun dandiberikan hak-hak kepegawaiannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Pasal 14

Selain karena berakhirnya masa jabatan, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BNSP diberhentikan apabila yang bersangkutan :

a. meninggal dunia;

b. mengundurkan diri;

c. melakukan tindak pidana kejahatan yang telah mendapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap;

d. sakit yang berkepanjangan lebih dari 6 (enam) bulan dan/atau tidak mampu lagi melaksanakan tugas; atau

e. tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana mestinya.

BAB V

TATA KERJA

Pasal 15

Dalam melaksanakan tugas, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BNSP wajib menerapkanprinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan transparansi, baik secara internal maupun eksternal.

Pasal 16

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja BNSP diatur oleh BNSP.

BAB VI

PEMBIAYAAN

Pasal 17

Segala pembiayaan yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas BNSP dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

BAB VII

KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 18

Pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja yang telah dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau telah diakui oleh lembaga internasional tetap dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi yang bersangkutan.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 19

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 Agustus 2004

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 5 Agustus 2004

SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

BAMBANG KESOWO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 78

Salinan sesuai dengan aslinya

SEKRETARIAT KABINET RI

Kepala Biro Peraturan Perundangundangan

II

Edy Sudibyo


P E N J E L A S A N

A T A S

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 23 TAHUN 2004

TENTANG

BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI

I. UMUM

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengamanatkan pembentukan BadanNasional Sertifikasi Profesi yang independen untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja bagi tenaga kerja, baik yang berasal dari lulusan pelatihan kerja dan/atau tenaga kerja yang telah berpengalaman. Badan Nasional Sertifikasi Profesi tersebut sangat diperlukan sebagai lembaga yang mempunyai otoritas dan menjadi rujukan dalam penyelenggaraan sertifikasi kompetensi kerja secara nasional. Dengan demikian, maka akan dapat dibangun suatu sistem sertifikasi kompetensi kerja
nasional yang diakui oleh semua pihak.

Keberadaan Badan Nasional Sertifikasi Profesi sebagaimana dimaksud di atas juga sangat penting dalam kaitannya dengan penyiapan tenaga kerja Indonesia yang kompetitif menghadapi persaingan di pasar kerja global. Disamping itu, dengan adanya Badan Nasional Sertifikasi Profesi akan memudahkan kerja sama dengan institusi-institusi sejenis di negara-negara lain dalam rangka membangun saling pengakuan (mutual recognition) terhadap kompetensi tenaga kerja masing-masing negara.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka Peraturan Pemerintah ini mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas, organisasi, keanggotaan, tata kerja, dan pembiayaan Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas

Pasal 2

Cukup jelas

Pasal 3

Cukup jelas

Pasal 4

Ayat (1)

Walaupun sertifikasi kompetensi kerja dilaksanakan dan menjadi tanggung jawab Badan Nasional Sertifikasi Profesi, namun karena ruang lingkup kompetensi kerja sangat luas dan tersebar di berbagai sektor, maka diperlukan adanya lembaga sertifikasi profesi yang berfungsi sebagai kepanjangan tangan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi dalam melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 5

Cukup jelas

Pasal 6

Cukup jelas

Pasal 7

Cukup jelas

Pasal 8

Cukup jelas

Pasal 9

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

W alaupun secara fungsional Sekretariat BNSP bertanggung jawab kepada BNSP, namun secara struktural dan administratif merupakan unit organisasi di bawah unit Eselon I di lingkungan instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 10

Cukup jelas

Pasal 11

Cukup jelas

Pasal 12

Cukup jelas

Pasal 13

Cukup jelas

Pasal 14

Cukup jelas

Pasal 15

Cukup jelas

Pasal 16

Cukup jelas

Pasal 17

Cukup jelas

Pasal 18

Lembaga Sertifikasi Profesi yang melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau telah diakui oleh Lembaga Internasional misalnya Asosiasi-asosiasi Profesi atau Lembaga Sertifikasi Profesi milik Pemerintah dan swasta yang telah diakui keberadaannya oleh Lembaga Internasional.

Lembaga Sertifikasi Profesi tersebut tetap melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja sesuai dengan bidangnya tanpa harus mendapatkan lisensi untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja dari BNSP.Namun demikian, dalam pelaksanaannya Lembaga Sertifikasi Profesi disini berkoordinasi dengan

BNSP.

Pasal 19

Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4408