Perkembangan memukau pasar yang
terorganisir, yang terjadi di negeri-negeri yang
baru bangkit, telah meningkatkan
ketidakstabilan sistem keuangan internasional.
Kita harus ingat bahwa, setiap hari, pasar
modal melakukan penilaian kembali atas
berbagai investasi, dan penilaian tersebut akan
dijadikan sebagai landasan bagi keputusan
(konstan) para investor.
Tapi, kemudian muncul persoalan baru:
penilaian tersebut mengakibatkan terjadinya
transaksi dalam jumlah yang lebih besar dan
lebih cepat ketimbang masa-masa sebelumnya,
yang mengakibatkan ketidakstabilan pasar
modal.
Dampak lainnya, akibat kebijakan neoliberal
tersebut, adalah: terjadinya perpindahan aset
milik negara ke tangan pengusaha
internasionalyang, dalam kenyataannya, jauh
lebih kuat ketimbang pemerintah.
Perbandingan rasio antara biaya dengan
manfaat pinjaman jangka panjang tersebut
tidak menguntungkan negeri-negeri Dunia
Ketiga. Terutama, dalam hal keuntungan
finansial, rasio tersebut memberikan problem
(yang menjengkelkan) terhadap sektor transaksi
keuangan (dengan luar negeri) karena, ternyata,
deviden mengalir/dikirim ke luar negeri dan,
pada umumnya, dalam jangka pendek saja
sudah bisa mengeruk kembali arus keuangan
(yang tadinya mengalir ke dalam negeri).
Jika kita mengambil contoh Amerika Latin,
terlihat bahwa investasi yang ditetapkan oleh
neraca pembayaran, ternyata, merupakan hasil
dari privatisasi dan, dengan demikian, tercermin
pula perubahan kepemilikan aset-aset akibat
adanya penghisapanaset, yang semula ditujukan
untuk kepentingan lokal berubah menjadi aset
yang diperuntukan bagi kepentingan non-lokal
(dengan demikian, mereka, sebenarnya, tidak
melakukan investasi yang dapat mendatangkan
kesejahteraan dan pekerjaan). Investasi
tersebutyang semula dinilai sebagai arus-
masuk dalam neraca pembayaran dan
perhitungan finansial (saat perubahan
kepemilikan didaftarkan)kemudian bertahan dan
memberikan masukan berupa pertambahan
pendapatan yang (namun) dinilai sebagai arus-
keluar untuk pembayaran pembagian
keuntungan di luar negeri, sehingga malahan
mendekapitalisasi negeri yang menerima
investasi dan meningkatkan problem tehadap
sektor ekternalnya (atau hubungan ekonomi luar
negerinya). Arus sumberdaya tersebut, yang
mengalir ke negeri-negeri kayadan jarang
diberitakan oleh media massasangat
bertolakbelakang dengan pemberitaan (terus
menerus) yang menyatakan bahwa negeri-
negeri miskin telah ditingkatkan pendapatannya
oleh investasi asing.
Jika kita, secara menyeluruh, melihat kembali
unsur-unsur yang ada dalam neraca
pembayaran Amerika Latin dan Karibia, maka
terungkap lah elemen-elemen yang bisa
menguatkan analisa tersebut, yakni dengan
membuktikan bahwa yang menjadi penyebab
(sebenarnya) defisit neraca pembayaran bukan
lah karena evolusi neraca perdagangan yang tak
menguntungkansebagaimana penjelasan banyak
orangakan tetapi karena pencapaian unsur
pendapatannya yang, setelah dihitung transfer-
bersih arus timbal-balik sumberdayanya, lebih
besar mengalir ke luar (berupa keuntungan
investasi luar negeri). Dalam periode
1990-1999menurut perhitungan
ECLACakumulasi defisit neraca pembayaran
Amerika Latin mencapai sekitar US$ 422 milyar.
95 % hasil (negatif) defisit tersebut
disumbangkan oleh unsur pendapatan.
Oleh karena itu, tak ada alasan lagi bahwa
swastanisasi, yang digembar-gemborkan
kebijakan neoliberalyang, katanya, dalam
beberapa kasus, bisa menghasilkan peningkatan
pendapatan secara kilat sesunguhnya
merupakan transfer-bersih (jangka-menengah
dan jangka-panjang) sumber devisa yang akan
menghasilkan konsekuensi lilitan spriral-hutang.
Lebih jauh lagi, kebijakan pangalihan aset
(tanpa pandang bulu) kepada orang asing
dalam skala luas tak akan memperbaiki
perubahan struktural atau memenuhi kebutuhan
nyata ekonomi Amerika Latin.
No comments:
Post a Comment
http://panduanserikatburuh.blogspot.com/ Berharap dapat bermanfaat bagi para calon buruh,buruh.
Untuk mengembangkan blog ini silahkan sampaikan pesan anda dalam komertar.