Pelajaran VIII

IX. Penyelesaiannya Terdapat di Benua Seberang, di Negeri-negeri Seberang

1. Kapitalis menyelesaikan masalah-masalah mereka di tempat lain, di negeri-negeri lain. Mereka senantiasa memerlukan lebih banyak bahan mentah, lebih banyak pembeli dan pabrik-pabrik yang lebih besar untuk menambah keuntungan mereka. Bagaimanakah cara mereka mengatasi masalah ini? “Aku telah lama memikirkan masalah ini. Pabrik-pabrik kami adalah pabrik-pabrik terbesar di dunia, sedangkan tanah jajahan kita terlalu sedikit. Kami perlu memperluas tanah jajahan kami kalau ingin mempertahankan kedudukan kami,” kata Krupp, seorang kapitalis Jerman. Kapitalis Jepang dan Italia menghadapi masalah yang sama seperti kapitalis Jerman. Sayangnya, seluruh dunia telah dijajah oleh penguasa-penguasa lain. Hanya melalui perang saja mereka dapat merampas tanah jajahan dari penguasaan imperialis lain.


2. Terjadilah perang dunia I. Negara-negara imprealis berselisih dan perang dunia meletus pada tahun 1914. Pekerja-pekerja semua negeri dikerahkan untuk berperang tanpa belas kasihan. Mereka mengira itu adalah perjuangan suci demi mempertahankan tanah air. Mereka tertipu. Kalau mereka sadar, mereka tidak rela mati membunuh sesama mereka sendiri. Kapitalis adalah musuh bersama yang patut diperangi. Pertempuran terjadi dengan hebat di darat, laut dan udara. Di darat terjadi peperangan parit. Prajurit-prajurit bersembunyi di parit untuk mengecoh dan melindungi diri dari musuh agar mudah menyerang. “Mereka memberikan kami senjata dan kami belajar cara-cara menggunakannya. Kemudian, kami tembak saudara-saudara kami sendiri, yaitu pekerja-pekerja dari negeri-negeri lain. Itulah yang diperintahkan oleh kapitalis, pengkhianat golongan pekerja,” kata para pekerja yang menyadari hal tersebut.

3. Oktober 1917, Rakyat di Rusia berpendapat bahwa kapitalis perlu dihancurkan dengan segera. Mereka yakin bahwa jika mereka mau mengembalikan kekuasaan kepada tangan mereka, maka mereka membutuhkan revolusi. Pabrik-pabrik diambil-alih oleh buruh-buruh. “Mulai sekarang, kami hanya menghasilkan barang-barang yang kita perlukan saja. Kita tak perlu ragu barang-barang tidak laku karena apa yang kita hasilkan akan kita gunakan semuanya, dan sudah tentu kita mampu membelinya. Tak ada, siapa pun, yang akan merampas hak kita karena, mulai sekarang, segala hasil keringat kita adalah bermanfaat bagi kita sendiri. Bila kita kekurangan makanan, semua akan kekurangan makanan. Ladang dan pabrik kita akan menghasilkan cukup bahan-bahan keperluan hidup untuk setiap orang ,” kata rakyat pekerja di Rusia. Kapitalis di seluruh dunia kini mulai merasa bimbang. Kegembiraan jelas terbayang pada wajah setiap pekerja. “Masanya sudah tiba bagi kita untuk melancarkan suatu revolusi,” sorak-sorai rakyat pekerja.

4. Pasang Surut Perdagangan Kapitalis:

1918: Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan Jerman. Kapitalis-kapitalis lain mengambil alih jajahan Jerman. Jermas selepas perang mengalami kemerosotan perdagangan, hingga terjadi pengangguran dimana-mana. Tentara-tentara mengawasi toko-toko dan gedung-gedung perdagangan untuk mencegah para pengangguran (lapar) yang mau mencuri.

1921: Terjadi kerusuhan dan demonstarasi besar-besaran di Prancis akibat depresi ekonomi.

1923: Di Jerman, uang tidak bernilai. Segenggam lobak di pasar berharga 15 juta Mark Jerman!

1926: Di Inggris, jutaan rakyat turun ke jalan, yang dihalau oleh polisi dengan senjata.

1929: Depresi besar (great depression). 13 juta orang menjadi pengangguran di Amerika Serikat.

1931: Di Adalen, Swedia, tentara menembak pekerja-pekerja yang berdemonstrasi dan menuntut dengan hebat di seluruh negeri. Demonstrasi di Stockholm, 30 orang buruh dibawa ke rumah sakit setelah dihajar oleh pasukan polisi berkuda.

1932: Ivan Kreuger, seorang kapitalis Swedia yang paling besar tidak dapat menyelamatkan pabriknya dari kebangkrutan. Dia kemudian bunuh diri.

1933: Hitler menjadi pemimpin Jerman. Pabrik-pabrik mengeluarkan senjata sebanyak-banyaknya. Jerman memproduksi persediaan untuk peperangan, dan begitu juga dengan negeri-negeri imprealis lain. Perkembangan ini memberi nafas lagi kepada dunia perdagangan.

1935: Perdagangan tidak mungkin dapat berjalan jika seperti itu terus. Suatu tindakan perlu segera diambil segera. Keadaan perdagangan Jerman tidak mempunyai tanah jajahan. Mereka tahu bahwa masalah mereka tidak mungkin dapat diselesaikan secara damai. Lalu mereka memberikan bantuan uang kepada Hitler.

5. Perang Dunia II bergolak. Jerman, Jepang dan Italia kalah dalam Perang Dunia ke-2. Sekutu—salah satunya Uni Sovyet—berada pada pihak pemenang. Mari kita lihat perkembangan Uni Sovyet. Rakyat Rusia meramalkan bahwa revolusi akan tersebar ke seluruh benua Eropa dan mereka bersedia memberikan bantuan kepada pekerja-pekerja di sana. Pertani-petani mencoba mengusahakan tanah agar semua orang mendapat makanan, tetapi tanaman tidak memberikan hasil yang baik pada masa itu dan makanan tidak mencukupi. Kemudian imperialis menyerang. Mereka mengirimkan agen intelejen dan mata-mata untuk bekerja sama dengan bekas-bekas kapitalis yang memusuhi para buruh. Kemudian, Uni Sovyet diserang dari luar dan, pada masa yang sama pula, perang saudara pun meletus. Banyak rakyat Rusia yang menjadi korban. Rakyat memerlukan makanan dan senjata untuk mempertahankan diri mereka. Bantuan luar tidak ada. Sebuah pabrik yang cukup besar diperlukan untuk menghasilkan senjata dan alat-alat pertanian. Tindakan harus segera diambil. Tetapi, Uni Sovyet pada tahun 1945, berbeda dengan keadaannya dibandingkan dengan Uni Sovyet pada tahun 1917. Apa yang telah terjadi terhadap Revolusi Rusia? Banyak petani yang dipaksa bekerja di pabrik-pabrik. Para pemimpinnya tidak ada waktu untuk menjelaskan kepada rakyat mengapa tindakan itu perlu diambil. Banyak petani yang marah membakar ladang dan membunuh ternak mereka. Mereka yang membantah dipenjarakan dan dihukum berat. Dalam Perang Dunia II, Rusia sekali lagi menghadapi serangan imprealis. Beruntung imprealis tak berhasil. Sebaliknya, prajurit-prajurit Soviet telah membebaskan beberapa negeri Eropa Timur dari pendudukan NAZI dan kapitalis. Sebanyak 20 juta rakyat Soviet gugur di medan perjuangan. Setelah perang selesai, pemimpin Soviet menginginkan negeri Eropa Timur membangun satu blok yang kuat setingkat dengan blok negeri kapitalis. Dimulailah suatu persaingan yang hebat antara pihak Timur dan pihak Barat, yang disebut dengan ‘Perang Dingin’. Oleh karena negeri-negeri Eropa Timur lemah dan hancur dalam peperangan, maka pimpinan Soviet dapat memperluas pengaruhnya melalui bantuan untuk membangun kembali negeri-negeri mereka. Soviet telah berhasil membangun sebuah negeri yang kuat dari segi industri dan pertahanan. Ia merupakan negeri sosialis yang terkemuka di dunia. Di samping itu, Soviet juga telah bertahun-tahun memberi sumbangannya kepada pergerakan revolusioner di seluruh dunia, terutama di Korea dan Vietnam. Namun demikian, banyak pula yang berpendapat bahwa negeri Soviet juga mempunyai kepentingannya sendiri dan selalu menggunakan gerakan pembebasan lain sebagai alat untuk mencapai kepentingannya sendiri, dan Rusia sendiri mulai berupaya seperti negeri kapitalis lainnya dalam usahanya untuk mencari kekayaan. Hanya sejarah yang dapat membuktikan semua prasangka tersebut. Tapi, apa yang jelas kepada kita sekarang adalah bahwa penyatuan seluruh rakyat miskin Dunia Ketiga merupakan keharusan untuk mengalahkan kekuasaan imperialis.

6. Revolusi meletus di Cina, Korea, Albania, Kuba, Vietnam, Kamboja, Laos, Guinea-Bissau, Mozambik, Angola, Nikaragua, dan Zimbambwe. Petani miskin dan pekerja mengangkat senjata berjuang untuk pembebasan mereka. Imprealis tidak mudah menyerah. Perang rakyat berkepanjangan hingga beberapa tahun. Bom dan tentara imprealis membunuh dan memusnahkan rakyat, serta menghancurkan alam dengan bomnya, demi mempertahankan kepentingannya. Oleh karena itu, rakyat miskin haruslah bersatu dan bekerja sama. Tanpa banyak bantuan dari luar, mereka diharuskan mandiri dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan kekuasaan imprealis. 

7. Dan mereka membangun revolusi. “Kami bangun pabrik-pabrik di desa agar rakyat tidak bertumpu pada kota saja untuk mencari pekerjaan,” kata pekerja. Dalam perundingan rakyat di lingkungan tempat tinggalnya, diputuskan “Kami telah memutuskan bahwa saudara masuk universitas dan mengambil jurusan kajian permesinan, karena saudara berminat dalam bidang itu dan saudara adalah adalah kawan seperjuangan yang sungguh setia.” Banyak orang memberikan sumbangan bagi pembebasan negeri ini. Sekarang, perlu pula diawasi agar golongan pimpinan partai dan serikat pekerja, penyelenggara pemerintahan dan perusahaan, serta ahli teknik, tidak mengambil-alih kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri. Administratur dan pegawai pemerintah diwajibkan bekerja di pabrik dan ladang untuk beberapa waktu lamanya dalam setahun agar mereka tidak sombong dan menganggap diri mereka dari golongan terbaik ketimbang kami. Univesitas dan badan-badan lain terbuka untuk semua petani dan buruh. Petani-petani tidak harus pindah ke kota-kota besar untuk bekerja. Pabrik-pabrik telah dibangun di pasar-pasar kecil dan di kampung-kampung di mana rakyat tinggal. Seperti biasa, kaum kapitalis dalam ketakutan, tapi...

8. Rakyat di tanah-tanah jajahan gembira kapitalis sudah bisa digulingkan. Semangat nasionalis merebak ke seluruh Afrika dan Asia. Rakyat ingin menentukan nasib mereka sendiri. Cita-cita mencapai kemerdekaan mencetuskan pemberontakkan di banyak tempat. Sebagai contoh: 

Di Algeria, anak-anak melakukan unjuk rasa menuntut kemerdekaan. Akhirnya rakyat merampas uang dari bank-bank untuk membeli senjata. Pemuda-pemuda—yang tidak mau menjadi anggota tentara Prancis—bersatu. Satu gerakan pembebasan diorganisasikan, lalu mencetuskan pemberontakkan dalam bulan November, 1945. Tidak ada satu kekuasaan imprealis pun di dunia ini yang dapat menghalangi rakyat dari berjuang menuntut pembebasan mereka.

Di Afrika Selatan, Kaum Zulu memulai suatu pemberontakkan mereka pada 13 Januari 1949. Tiga pabrik, 700 gudang dan 1500 rumah musnah dalam pemberontakkan. Pemberontakkan ini dapat dipatahkan oleh polisi dan tentara Afrika Selatan.

Di Kenya, Kaum Kikiyu mengawali pergerakan pembebasan mereka dari kawasan bukit lembah Kenya. Dengan menggunakan senjata, mereka berjuang untuk mendapatkan kembali tanah mereka yang diambil oleh Inggris. Imprealis tidak mau mengalah.

9. Satu per satu, kapitalis tumbang. Keadaan ini memusingkan kapitalis-kapitalis lain di seluruh dunia. Tindakan segera perlu diambil untuk menjamin keselamatan mereka. Undangan dikirim ke seluruh dunia untuk menghubungi para kapitalis. Persidangan diselenggarakan di Amerika Serikat, yang menjadi pemasok senjata terbesar di dunia. Kapitalis AS merencanakan sesuatu untuk rekan-rekan mereka sesama kapitalis. “Ini adalah masalah kita bersama. Masalah hidup atau mati. Kita harus mengutamakan kelas kita dan menyingkirkan perkara-perkara lain. Kita tidak mau terus-menerus berperang sesama negara imprealis. Kita juga tidak ingin krisis ekonomi berulang kembali,” kata kapitalis dari Amerika itu. “Hentikan Revolusi!” sahut kapitalis dari Inggris. Sementara, di luar gedung pertemuan, di jalanan, jutaan rakyat pekerja di berbagai negeri sedang bergerak bersama untuk melancarkan aksi revolusi. “Jumlah kita terlalu sedikit jika dibandingkan dengan buruh dan petani...,” kata kapitalis yang lain. “Kita perlu bersatu,” kapitalis Amerika menekankan. Persidangan-persidangan di Bonn, Tokyo dan Roma menghasilkan kata sepakat. “Kita memerlukan tanah jajahan. Semasa perang kita gagal mendapatkan tanah jajahan,” kata mereka, para kapitalis itu. “Tenanglah, kita bisa memberikan kemerdekaan kepada tanah-tanah jajahan kita itu,” saran kapitalis Amerika. “Apa!” yang lainnya tak sepakat. “Maksudku, sebelum mereka melancarkan revolusi,” kata kapitalis Amerika.

10. Penjajah utama—Inggris, Prancis, Belanda dan Belgia—pada mulanya enggan memberikan kemerdekaan tetapi akhirnya mereka menuruti nasihat Amerika Serikat. Namun, Portugal tidak sanggup menuruti saran Amerika, sehingga terjadi pergolakan pada tahun 1974 yang menjatuhkan rezim Salazar. Kini, tumpuan gerakan ada pada perjuangan SWAPO untuk kemerdakaan Namibia yang dikuasai oleh Afrika Selatan, dan perjuangan Polisario untuk kemerdekaan Sahara Espanyol, dan perjuangan rakyat kulit hitam Azania di Afrika Selatan.

11. “Kami mencapai kemerdekaan dalam tahun 1957,” kata rakyat Afrika. Berita ini disambut dengan gembira oleh semua lapisan masyarakat. Mereka mengadakan upacara besar. Bendera Inggris diturunkan. Pembesar Inggris juga hadir dalam upacara tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan bendera Afrika dikibarkan. “Peristiwa ini sepatutnya menandakan tamatnya pemerasan! Kami tidak lagi dianggap sebagai tanah jajahan! Kami sudah merdeka. Lalu kami berikan nama baru kepada negeri kami. Dulunya negeri kami dikenali oleh orang Eropa sebagai ‘Pantai Emas’. Sekarang kami menamakannya GHANA, yaitu nama negeri ini sebelum kedatangan orang kulit putih,” cerita rakyat Ghana.

12. Saat itu, mereka sungguh gembira. Akhirnya, pemerasan dan penindasan dapat diakhiri juga. Namun, apa yang selanjutnya terjadi berlainan sama sekali dengan apa yang mereka harapkan. Hampir seluruh penduduk negeri ini terdiri dari petani. Kebanyakan dari mereka menanam coklat dan menjualnya kepada perusahaan. Dahulu, mereka dipaksa menanam coklat. Sekarang, sesudah merdeka, mereka berharap akan dapat menambah hasil penjualan mereka. Mereka hidup dalam kemiskinan karena uang dari penjualan coklat yang sampai ke tangan mereka sangat kecil. Pemerintah mencoba menaikkan harga, tapi usaha ini juga gagal. “Kalau kami meminta harga tinggi, perusahaan-perusahaan tidak mau membeli coklat kami. Jadi, kami terpaksa menjual dengan harga rendah. Kami terpaksa menjualnya juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga coklat bukan saja tidak meningkat, malah sejak merdeka semakin menurun. Kehidupan kami tidak bertambah baik, seperti diharapkan, tetapi sebaliknya menjadi semakin melarat,” kata petani Afrika. Tidak ada kemajuan yang dicapai sejak merdeka dan rakyat tidak dapat menahan kesabarannya. Dalam tahun 1961, mogok besar-besaran terjadi setelah kapitalis menurunkan gaji buruh di kota. Mogok telah dilancarkan di Sekondi, Takoradi, Kumasi, dan Accra. Buruh pembuat besi, buruh pelabuhan, penjaga toko, termasuk perempuan yang berjualan di pasar, semua berhenti bekerja. Pemerintah menjalankan berbagai usaha untuk menarik mereka agar kembali bekerja. Setelah lebih dari tiga minggu para pekerja yang mogok ini terpaksa juga kembali bekerja untuk mencari nafkah hidup. Makanan dan uang tabungan mereka sudah habis. Pimpinan-pimpinan yang bertanggung jawab melancarkan pemogokkan itu dihukum penjara. Presiden, dalam pidatonya melalui radio, telah menasihatkan mereka untuk tenang. “Negara dalam keadaan huru-hara. Kita, janganlah memikirkan kepentingan sendiri, tetapi haruslah mengabdi untuk negara.” Bicara memang gampang, apa lagi bagi seorang presiden yang tinggal di rumah berhawa dingin dan mempunyai mobil besar. “Para pejabat tidak memahami cara hidup kita yang sebenarnya. Kebanyakan dari mereka lulusan sekolah Inggris dan banyak yang telah belajar undang-undang di Universitas. Mereka lebih menyerupai orang kulit putih daripada orang Afrika.”

13. “Negeri kami seharusnya kaya dan makmur. Kami seharusnya mempunyai pabrik-pabrik sendiri. Tidak seorang pun harus kelaparan lagi. Kita harus memiliki cukup sekolah dan rumah sakit untuk memberi penghidupan kepada setiap penduduk. Kapankah harapan ini akan tercapai? Dan hari ini pun, kami masih terus bekerja untuk perusahaan. Tidak ada bedanya di antara dulu dengan sekarang,” kata rakyat Afrika.

14. Sebaliknya pemerintah telah meminta lebih banyak lagi perusahaan asing menanamkan modalnya di sini. Sekarang bukan saja Inggris yang menanamkan modalnya, malah terdapat juga Jerman dan Amerika Serikat. Menurut pemerintah, keadaan akan bertambah baik jika lebih banyak perusahaan asing yang menanamkan modal di sini. Kita semua sangat paham mengenai akibat buruk yang dibawa oleh perusahaan asing kepada kita, tetapi golongan kaya mendapatkan keuntungan yang lumayan dari penanaman itu.

15. Pada tanggal 26 Februari, 1966, radio mengumumkan pembentukan sebuah negara baru di bawah pimpinan presiden baru pula. Pemerintahan lama telah digulingkan. Pihak tentara telah mengambi-alih pemerintahan dan berjanji akan menghapuskan segala bentuk praktek yang tidak adil. Kebanyakan rakyat menyambut berita ini dengan perasaan gembira. Itu merupakan berita baik. Rakyat menunggu perubahan yang dijanjikan itu dengan penuh kesabaran, tapi keadaan tidak bertambah baik. Semuanya sama seperti dulu juga. Semuannya bohong belaka. Negara tidak didirikan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, tetapi didirikan untuk kepentingan perusahaan. “Kami tahu ini salah, tapi apa yang bisa kami perbuat? Kebanyakan dari kami tidak bisa menulis dan membaca. Bagaimana kami dapat mengubah keadaan?”

16. Cerita tentang sebuah negeri berkembang. Ini adalah sebuah negeri yang sedang membangun, sebuah negeri bekas tanah jajahan, yang kini sudah mempunyai pemerintahan sendiri, bendera dan lagu kebangsaan sendiri. Akan tetapi, negeri ini masih dikuasai oleh imperialis. Bahan-bahan mentah yang dihasilkan oleh negeri ini diangkut dari pertambangan dan perkebunan serta dibawa ke pabrik-pabrik besar yang senantiasa memerlukan bahan mentah. Perusahaan-perusahaan membeli bahan mentah dengan harga murah. Di pabrik-pabrik milik kapitalis, bahan-bahan mentah tersebut dijadikan barang-barang pabrik. Barang-barang tersebut akan dijual kembali kepada negeri-negeri yang sedang membangun atau atau negeri imprealis lain dengan harga yang tinggi.

17. Satu kelas baru, yaitu kelas menengah Afrika, mulai muncul di kota-kota Afrika. Mereka, yang digolongkan ke dalam kelas ini—termasuk pegawai pemerintah, birokrat, pegawai, profesor universitas dan pegawai lain—mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi dari rakyat kecil. Adalah menjadi tanggung jawab kelas menengah untuk memperhatikan agar semua kehendak imprealis dipenuhi—yakni: selalu bisa mendapatkan bahan mentah dengan harga murah, agar mereka bisa mengangkut keuntungan besar yang diperoleh dari negeri ini ke luar negeri, ke negeri imperialis tanpa hambatan. Selagi imperialis dibenarkan mencuri kekayaan negeri-negeri yang sedang berkembang, saat inilah rakyat bertambah miskin dan papa.

18. Akhirnya, pemerintahan yang sedang membangun akan berhutang kepada negeri imperialis, dan pinjaman serta bantuan yang diberikan “digunakan” untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan fasilitas lain yang diperlukan oleh rakyat. Namun, pengangguran, kemiskinan dan kelaparan tidak juga bias dihapuskan. Kaum kapitalis memberikan kebebasan kepada rakyatnya dengan satu tangannya tapi, dengan tangan lainnya, mencengkram mereka. Beginilah keadaan imprealisme hari ini: 

19. Kapitalis bisa menindas dan memeras orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Melalui penipuan, keganasan dan kekejaman, mereka merampas hasil usaha berjuta-juta umat manusia dan memusnahkan kehidupan mereka. Kapitalis tidak pernah puas. Setiap hari mereka berusaha mendapatkan buruh murah, bahan-bahan mentah yang lebih murah dan apa-apa saja yang bisa mendatangkan keuntungan. Mereka menggunakan kapal terbang pembom, kendaraan anti peluru dan tentara untuk membunuh siapa saja yang berusaha menuntut hak agar kekayaan di dunia ini dibagikan dengan adil kepada seluruh penduduk, di Vietnam, Laos, Angola, India, Palestina, Bolivia, Uruguay, Filipina, Amerika Serikat, Ethiopia, Mozambique, Republik Dominika, Yunani, Indonesia, dan lain-lainnya. Sekarang mari kita melihat keadaan negeri imprealis yang terkemuka di dunia, yaitu Amerika Serikat:

20. “Kami berempat mengunjungi di suatu daerah pedalaman yang terdapat pepohonan, danau, dan juga jalan raya dengan kendaraannya hilir mudik. Kawasan hutan tersebut terlalu kosong dan terpencil. Kami bertanya-tanya apakah bencana yang telah menimpa penduduk, yang pernah bercocok tanam, yang tinggal di kebun-kebun kecil dan kota-kota kecil di daerah ini.” 

21. “Kemudian, kami temui pula sebuah kota besar yang dipenuhi manusia, kendaraan dan juga penjahat. Pemandangannya tidak begitu menarik minat kami, namun kami singgah juga di sini. Di sini, kami bertemu dengan seorang kapitalis yang benar-benar sama saja dengan kapitalis-kapitalis lain yang pernah kami temui.” “Selamat datang, selamat datang,” katanya. “Ada yang bisa aku bantu untuk kalian semua?” Kami menerangkan bahwa kami hanya ingin menyaksikan kehidupan di Amerika saat ini. Lalu dia membawa kami berjalan-jalan di kota. “Aku pantas mengatakan bahwa Amerika adalah negeri terkaya di dunia. Rakyatnya hidup aman dan makmur,” ujarnya. “Tidakkah Amerika kalah dalam perang Vietnam?,” ujar kami. Kami sudah sampai. Dia membawa kami ke warung kopi. “Negeri kami mencintai keamanan. Tapi kami harus juga mengawasi kepentingan kami di luar negeri. Kami tahu bahwa kami mempertaruhkan nyawa prajurit-prajurit kami di negeri-negeri yang tidak mau mempertahankan diri mereka sendiri dan itu, ternyata, adalah suatu usaha yang sia-sia. Namun, bagaimana pun, kami masih juga berusaha,” terangnya. Dia terus saja berbicara. Kami mengikuti dia memasuki warung kopi. Dia mempersilahkan kami memilih makanan dan minuman yang kami inginkan. Bermacam-macam roti, kue dan kopi dijual di tempat ini. Semuanya kelihatan enak, kami bisa melihatnya dengan jelas dari balik kaca. “Bagaimana caranya?” tanya kami. “Kami hanya memerlukan beberapa orang agen CIA (intelejen Amerika) yang cakap dan langkah diplomasi yang lain, juga disertai dengan bantuan keuangan untuk tentara agar menjaga keamanan di negeri-negeri sahabat,” katanya, sambil membayar di kasir, uangnya sangat banyak. “Dalam keadaan tertentu, kami juga mengirimkan tentara,” setelah membayar, dia membawa makanan dengan nampan ke meja di hadapan kami. Dia duduk, menyeruput kopi dan melanjutkan bicara. “Kami perlu banyak kawan di luar negeri. Mereka seperti udara untuk bernafas, tanpa mereka kami mati.” Kami meminum kopi kami dan terus memperhatikannya bicara. “Sekarang ini, kami tidak mempunyai tanah jajahan. Sebagai gantinya, kami mempunyai negeri-negeri yang dikenal sebagai negeri-negeri berkembang. Tentu sekali, kami semua menginginkan keadaan di mana seluruh manusia cukup makan dan kebutuhan lain-lainnya untuk diri mereka. Namun, bagaimanapun, kami harus mengutamakan diri kami sendiri,” ujar kapitalis itu, sambil menyalakan rokok. “Agar kami bisa bersaing dalam pasar dunia, kami terpaksa membeli dengan harga murah di satu tempat, yaitu di negeri-negeri yang sedang berkembang karena upah buruh di sana murah.” Kapitalis itu menyudahi acara minum kopi dan mengajak kami pergi ke tempat lain. Dia terus saja bicara sambil berjalan. “Kemana lagi perusahaan-perusahaan kami yang besar-besar akan pergi kalau tidak ke negeri-negeri yang sedang berkembang, yang sedang membangun. Pemerintah Amerika membantu pergerakan dan pemerintahan tangan besi seperti di Filipina, Pakistan, Korea Selatan, Brazil dan Spanyol.”

22. Kami melangkahkan kaki di trotoar salah satu jalan di Amerika, di mana-mana yang terlihat adalah manusia yang sibuk lalu lalang, papan reklame dari ukuran paling kecil sampai yang paling raksasa. Kami juga menyaksikan buruh-buruh bangunan yang sedang sibuk mendirikan gedung berpuluh-puluh lantai. “Kalau kami tidak memanfaatkan keadaan di negerri-negeri yang sedang membangun, perusahaan-perusahaan kami mungkin terpaksa ditutup, beribu-ribu pekerja akan kehilangan pekerjaan,” dia berbicara sambil menoleh ke belakang, ke arah kami, dengan memperlihatkan senyuman licik. Akh, dasar kapitalis. Jadi, orang-orang di sini hidup di atas titik-titik keringat orang-orang miskin yang bekerja di negeri-negeri lain, pikir kami, muram. Ini adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan. “Jumlah buruh terlalu banyak, sedangkan jumlah kapitalis sangat kecil. Tidakkah anda khawatir pada suatu hari nanti buruh-buruh akan merebut kekuasaan?” tanya salah seorang di antara kami. “Kami tak perlu terlalu yakin dengan perkara seperti itu,” dia melirik kami, lagi-lagi dengan senyumannya yang licik. Dia lantas melanjutkan, “tetapi, selagi mereka masih percaya kepada kepala negara, saat itulah pemberontakkan tidak akan terjadi.”

23. Kami terus mengikuti langkah kakinya untuk mendengarkan keterangan-keterangan yang lebih banyak lagi tentang kebusukan kapitalisme. “Kami selalu menyelenggarakan pertemuan secara rutin dengan kapitalis, ahli-ahli ekonomi dan pejabat pemerintah lainnya. Kami mempunyai hubungan yang dekat.” “Tapi bukankah pemerintahan yang membuat keputusan?” tanya kami keheranan. “Tidak,…. karena kami, kapitalis, yang sebenarnya berkuasa.” Kali ini dia benar-benar tersenyum dengan lebarnya. Kami berpapasan dengan polisi-polisi yang sedang menjaga bank. “Kami yang memiliki segalanya, maka kamilah yang menentukan kebijakan apa yang harus dikeluarkan dan produksi apa yang harus dihasilkan. Kalau buruh bekerja cepat, gaji mereka akan ditambah,” matanya memandang melalui kaca ke dalam toko yang kami lewati. Di dalam toko itu, buruh-buruh yang kebanyakan perempuan sedang bekerja. “Negara hanya bertugas membantu kami dalam mendapatkan lebih banyak untung. Negara juga menyediakan kemudahan dan jaminan sosial, serta sedikit perubahan untuk memupuk kepercayaan rakyat kepada negara. Juga melatih anak-anak muda di sekolah agar apabila mereka tamat sekolah akan menjadi buruh yang terampil. Yang penting ialah: segala yang kami rencanakan berjalan lancar.” Kami jadi tahu, negara sebenarnya berada di pihak siapa, ternyata: di pihak kelas kapitalis!

24. Perjalanan kami sampai di tempat yang sangat ramai, mall, pusat perbelanjaan yang menjadi pasar. Mall dipenuhi teriakan orang-orang yang menawarkan barang-barang. Banyak orang yang membeli karena harus memenuhi kebutuhan mereka. Bermacam cara digunakan untuk menarik pembeli, di antaranya diskon, beli dua gratis satu dan banyak lagi, bahkan sampai ada yang menawarkan diskon 50%. Barang-barang memang sangat banyak dan melimpah: pakaian, kaus kaki, beras, buah-buahan, minyak wangi, barang-barang keramik, elektronik, bermacam-macam lagi banyaknya. Kapitalis itu kelihatan sangat bahagia menyaksikan aktivitas di Mall. 

25. Ia lalu mengajak kami menaiki tangga eskalator, salah satu capaian teknologi modern. Dan ia terus bicara. “Perusahaan-perusahaan besar kami menghasilkan barang-barang yang sudah tentu dapat pasaran. Jika barang-barang ini tidak dapat dijual maka, terjadilah…,” ia menjejakkan kaki di ujung tangga eskalator, “ KRISIS,” ucapnya dengan suara yang agak gemetaran. Terlihat perubahan air mukanya yang nampak seperti bingung, dan suaranya pun mulai meninggi. “Orang-orang akan membeli barang-barang kami, seperti baju, selimut, lipstik, kaus kaki, rumah, mobil, penyubur rambut…,” dia sudah mulai tidak terkontrol, suaranya makin meninggi dan kedua tangannya diangkat ke atas. Orang-orang di mall memperhatikan ulahnya. Kami menjadi agak malu. “…Rokok, mobil, gas, tirai, AC, alat-alat listrik, kerupuk, pasta gigi, kertas, televisi, sepeda motor, mainan kanak-kanak, pulpen,” dia menyemburkan nama berbagai jenis barang dengan berteriak. Kami jadi menutup telinga dibuatnya dan melarikan diri.

26. Kami meninggalkan dia yang sudah mulai meracau karena ia teringat krisis. Kami berempat berjalan-jalan tanpa suatu tujuan tertentu. Apa yang kami dengar dan kami lihat membuat kami merasa kurang senang. Kami merasa seolah-olah senantiasa dikejar oleh kapitalis ke mana saja kami pergi. Di hutan rimba Afrika atau pun di gedung-gedung besar di Amerika, kami tidak mungkin dapat melepaskan diri dari keganasan dan penipuan kapitalis.

27. Kami tiba di sebuah pabrik. Kami membuka pintu dan mengintip ke dalamnya. Beruntung, tak ada penjaga, kami bisa masuk ke dalam pabrik dan ingin berbincang-bincang dengan salah seorang buruh di sini. Para buruh duduk dalam sebuah ruangan yang besar dan bising. Kami menunggu hingga tiba jam istirahat agar kami bisa masuk dan berbincang dengan mereka. Ini lah pengalaman-pengalaman buruh-buruh yang terpaksa menjual dirinya pada kapitalis.

En. Z : “Radioku membantu membangunkanku pada pukul 6, setiap pagi. Aku tidak langsung bangun. Aku berbaring dulu sambil mendengar berita di radio. Kira-kira 15 menit kemudian, barulah aku bangun dan mandi. Untuk sarapan pagi, biasanya aku minum segelas besar kopi untuk menahan kantuk, beberapa butir telur dan daging. Aku membangunkan isteriku, antara jam 6.30 dan 7.00 pagi. Isteriku pun bekerja. Kami berdua harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku bekerja di pabrik perakitan barang-barang elektronik. Aku harus tiba di tempat kerja tepat pukul 8.00. Kalau tidak, gajiku pada hari itu bisa dipotong. Di pabrik, aku akan diberikan beberapa kotak sirkuit elektronik untuk diuji. Bagianku bekerja 24 jam sehari. Aku menyambungkan sirkuit elektronik ini ke sebuah alat komputer yang akan mendeteksi sirkuit-sirkuit yang rusak. Sirkuit-sirkuit yang rusak akan aku singkirkan ke sebelah sini, dan akan diambil pada waktu tertentu. Aku tidak mau berpikir apa yang aku kerjakan setiap hari. Kalau aku pikirkan, aku mungkin jadi gila—kerja ini sungguh membosankan. Perusahaan banyak mengambil buruh perempuan dari Meksiko. Dulu, mereka melakukan pergerakan, persatuan. Akibatnya, sebuah perusahaan ditutup dan dipindahkan ke Puerto Rico karena buruh-buruh di situ mengambil tindakan yang, sebenarnya, sesuai dengan peraturan. Sekarang, persatuan sudah tidak ada lagi karena buruh-buruh takut kehilangan pekerjaan mereka. Jumlah pengangguran di kota ini telah naik sebesar 87,2% karena banyak orang luar datang ke sini untuk mencari pekerjaan. Aku sekarang berumur 50 tahun. Aku pernah bekerja di pabrik pembuat kapal terbang. Aku bekerja di sana selama 29 tahun. Kemudian mereka memberhentikan aku, satu tahun sebelum aku layak menerima pensiun.”

Kami meninggalkan pabrik tersebut dan pergi ke seberang jalan, ke sebuah warung kopi. Di sini kami mengobrol dengan seorang pelayan warung kopi tersebut, yakni:

Nyonya P: “Ini adalah warung yang paling murah di kota ini. Aku mendapatkan upah sebanyak $1.25 sejam tanpa uang makan. Aku mendapatkan $2.00 sejam dari pemberian tip. Aku bekerja giliran saat sarapan pagi dan tengah hari, yaitu dari pukul 1 pagi hingga pukul 2 sore. Tempat ini sungguh sibuk dengan pelanggan dan kadang kala mereka terpaksa menunggu. Manajer senantiasa mengawasi pekerjaan kami. Selepas kerja, aku mengambil anakku pulang dari sekolah. Aku pulang ke rumah dan kemudian aku atau anakku menyediakan makan malam. Di malam hari, aku merasa sangat letih, tambahan pula dengan anak-anak yang nakal. Rumah sewaan kami juga terlalu sempit. Beberapa waktu yang lalu, tuan pemilik rumah tempat kami tinggal berusaha menaikkan sewa sebanyak $50.oo sebulan. Kami membantah. Kami beramai-ramai mengorganisasikan suatu persatuan penyewa rumah dan kemudian membawa perkara ini ke pengadilan. Tuan rumah ini menggandeng sebuah perusahaan pengembang perumahan. Oleh karena perusahaan mereka tidak memperbaiki kerusakan, maka mereka kalah dalam perundingan di pengadilan. Tapi, baru-baru ini, aku mendengar mereka ingin memberikan gedung ini untuk dijadikan gedung perkantoran. Jadi, orang-orang miskin akan diusir keluar dan digantikan dengan kantor-kantor perusahaan kaya. Dengan cara ini, mereka akan memperoleh lebih banyak untung.”

28. Seluruh kekayaan dunia dikuasai oleh segelintir manusia. Inilah dunia, yang digenggam oleh tangan-tangan segelintir kapitalis. Perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi berbagai barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan manusia dikuasai oleh segelintir kapitalis. Mereka tak bekerja, mereka seperti dalang yang memainkan boneka-boneka. Mereka mengontrol jalannya perusahaan dalam berproduksi dan menyalurkannya. Tak ada yang tak dimiliki kapitalis. Ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, segala jenis barang dan jasa. Mereka bisa membuat orang saling berkelahi untuk memperebutkan kekayaan, mereka bisa membuat negeri-negeri saling berperang. Para pemimpin negara berlomba-lomba dan saling berebutan menjadi kaki tangan kapitalis. Mereka berada pada posisi paling di atas, memandang ke bawah sambil menggenggam dunia. Sementara para pekerja dan rakyat miskin memikul beban yang diberikan oleh kapitalis. Para buruh dipekerjakan di pabrik-pabrik dan menghasilkan kekayaan yang dimiliki kapitalis. Buruh berada pada posisi yang paling bawah, menanggung beban yang sangat berat.

29. Penaklukkan Puerto Rico. 

Menurut Negara Amerika Serikat: Penduduk Puerto Rico tinggal di kawasan-kawasan pemukiman sempit yang tidak teratur. Mereka bertani sekadar cukup untuk hidup saja. Pemerintahan Spanyol sengaja tidak mau membangun tanah jajahannya. Bagi Spanyol, Puerto Rico hanya penting dari segi pertahanan saja, karena kedudukan Puerto Rico yang menjadi pintu masuk ke tanah-tanah jajahan Spanyol yang lain di Amerika Latin. Karenanya, tidak heran jika rakyat Puerto Rico, yang kebanyakan bukan penduduk keturunan Spanyol, mendukung penuh segala usaha untuk mengakhiri pemerintahan Spanyol di sana.Pendapat Gereja Protestan: “Tujuan akhir Republik ini adalah menghancurkan pemerintahan Spanyol di benua Amerika. Untuk mencapai tujuan tersebut, Amerika Serikat haruslah bersedia menjajah Kuba, Puerto Rico, Filipina atau, jika perlu, Spanyol sendiri. Amerika tentu sangat bersedia melakukannya.” (Rev. J.F. Carson)

Seorang Perwira Angkatan Laut AS, berkata: “Kami harus menjadikan negeri ini negeri yang terkemuka di dunia. Sebuah negeri yang mempunyai kekuatan angkatan laut terbesar sehingga dapat menguasai terusan-terusan utama. Negeri yang memiliki pangkalan-pangkalan tentara laut di Lautan Pasifik dan Atlantik, dan negeri yang mempunyai hubungan perdagangan yang kuat, sekelas dengan penguasa-penguasa lain di Lautan Pasifik dan Timur Jauh.” (Kapten Alfred Mahan)

Golongan Intelektual juga berkata: “Upaya yang telah dimulai oleh bangsa Inggris, yakni ketika mereka menaklukkan Amerika Utara, perlu diteruskan sehingga setiap kawasan di muka bumi ini, yang belum beradab akan menerima sifat Barat baik dari segi bahasa, agama, politik dan tradisi.” (John Fiske, Sejarahwan)

Golongan Kapitalis berkata: “Pabrik-pabrik di Amerika menghasilkan terlalu banyak barang sehingga melebihi kebutuhan rakyat Amerika. Kami harus mendirikan pusat-pusat perdagangan di seluruh dunia, yang akan menjadi pusat penjualan barang-barang kebutuhan buatan Amerika.” (Albert Beveridge, Senator dan Usahawan).

Dan pemerintah juga berkata: “Kedatangan kami ke Puerto Rico bukanlah bertujuan memerangi rakyat negeri ini yang telah menjadi mangsa pemerasan sejak berabad-abad lamanya. Kami datang untuk memberikan perlindungan kepada kalian dan harta benda kalian. Kami datang membawa kemakmuran kepada negeri ini; kemakmuran yang akan diperoleh sebagai hasil dari pemerintahan liberal yang dipraktekkan oleh negeri kami.” (Jeneral Miles, Panglima Tentara Amerika Serikat yang menaklukkan Puerto Rico)

Rakyat berkata: “Tapi kami ditipu. Kami bekerja untuk kepentingan kapitalis Amerika Serikat. Semua industri perdagangan dan pertanian di negeri kami dimonopoli oleh kapitalis Amerika. Kemakmuran yang mereka janjikan itu telah menjadi penindasan.” (Rakyat Puerto Rico)

Penderitaan rakyat Puerto Rico dikisahkan oleh kapitalis Amerika Serikat sebagai kisah Kejayaan Puerto Rico: 

“Anda juga bisa merasakan semua pengalaman manis yang pernah dinikmati oleh para pengusaha lain di Puerto Rico. Anda bisa mendapatkan untung yang lebih besar. Semua keuntungan yang anda dapatkan akan menjadi milik anda sepenuhnya. Anda bisa memperoleh sebanyak apapun buruh yang anda inginkan—dengan jumlah upah yang telah ditentukan. Anda akan dapat menjalankan bisnis anda dengan penuh keyakinan, karena di sinilah, satu-satunya tempat di dunia ini, yang menjadi tanah jajahan Amerika Serikat masa kini. Barang-barang produksi anda akan dijual di pasar Amerika Serikat tanpa dikenakan sedikit pun pajak. Pengusaha akan dapat menikmati 100% keuntungan tanpa pajak untuk barang-barang produksi mereka selama 30 tahun. Melihat banyaknya halangan dan rintangan yang dihadapi oleh para pengusaha pada hari ini, seperti naik turunnya nilai uang, inflasi, kedudukan ekonomi yang tidak stabil serta persaingan yang begitu hebat, maka aku berpendapat bahwa adalah sangat baik bila anda sekalian mempertimbangkan manfaat-manfaat yang disediakan di Puerto Rico. Kami pikir tidak ada tempat lain yang dapat menandingi Puerto Rico.” (Kapitalis Amerika)

Puerto Rico tergadaikan. Pabrik-pabrik dan pertambangan berdiri di seluruh penjuru negeri Puerto Rico, mesin-mesin didatangkan dan kawasan pertambangan diberikan kepada kapitalis. Rakyat Puerto Rico bekerja demi kepentingan kapitalis yang kebanyakan dari Amerika Serikat. Berbagai barang dan jasa dihasilkan. Pencemaran lingkungan terjadi di mana-mana. Pertumbuhan ekonomi Puerto Rico yang sungguh cemerlang dan tak terduga menjadi idaman semua negeri-negeri berkembang lainnya di dunia. Hal itu juga yang menjadi kebanggaan bagi Amerika Serikat.

30. Kaum kapitalis membangun kota-kota besar. Pabrik-pabrik, kantor-kantor dan lain-lain jenis kegiatan perdagangan, semuanya membuat kota-kota besar lebih sesak. Para buruh di kota bekerja untuk kepentingan kelas kapitalis. Mereka juga membeli barang-barang produksi kapitalis. Di sekeliling kota-kota besar tersebut, didirikan pula rumah-rumah petak sebagai tempat tinggal para buruh. Mereka senang tinggal di rumah-rumah seperti itu hanya karena berdekatan dengan tempat kerja mereka. Semua bangunan rumah petak tersebut adalah milik kapitalis. Rumah-rumah petak tersebut merupakan barang yang bisa disewakan kepada golongan buruh oleh para pemodal yang memilikinya. Bangunan rumah petak dibuat dari bahan-bahan yang murah. Golongan kapitalis mempunyai kekuasaan penuh dalam menentukan harga sewa, yang terpaksa harus dibayar oleh para buruh yang menyewanya. Kerja kapitalis: rumah petak yang dibangun dengan harga murah, disewakan dengan harga tinggi sehingga untungnya besar.

31. Di tengah-tengah kota, terdapat bank, hotel dan toko-toko besar. Begitu juga dengan pengacara, Tuan Pemilik Kapal, dan perusahaan-perusahaan. Masing-masing memiliki kantor sendiri di tengah-tengah kota, karena kawasan inilah yang menjadi pusat keramaian. Mereka mengunjungi kawasan ini beramai-ramai hendak membeli barang-barang produksi kapitalis, mengunjungi bank-bank kapitalis, atau tinggal di hotel-hotel milik kapitalis. Gedung-gedung yang dibangun terlalu tinggi dan terlalu rapat dari yang seharusnya, karena pihak yang menata kota ingin memastikan bahwa kelas kapitalis memperoleh keuntungan yang besar.

32. Cerita Sebuah Hotel. Empat orang kaya berunding—mereka adalah direktur perusahaan penerbangan, pimpinan perusahaan property (perumahan), dan seorang arsitek terkenal, yang berjumpa dengan seorang manajer bank. “Hotel sangat menguntungkan,” kata direktur perusahaan penerbangan. “Hotel itu haruslah besar,” tanggap si Arsitek. “Di tengah-tengah kota,” ujar pimpinan perusahaan perumahan. “Aku tahu di mana ada tanah yang murah,” kata pegawai bank yang memang banyak tahu soal tanah, karena orang-orang sering menjaminkan tanahnya ketika meminjam uang di banknya. Dia pun menelpon. “Walikota, kami telah mendirikan perusahaan perhotelan. Kami ingin membangun hotel di tanah Dewan Kota. Bisa?” “Tanah itu dekat dengan rumah petak. Orang-orang di situ menginginkan dibangun sekolah dan taman. Tidak adakah tempat yang lainnya?” “Sebenarnya ada di kota lain. Tapi sayang sekali, lahan itu sangat sesuai untuk membangun hotel. Benar, kan?” “Ya, tapi tidak adakah lahan lain?” “Tidak ada, hanya itu saja yang cocok.” 

“Akhirnya, tanah itu dibangun juga. Syukurlah, sekarang taman dan sekolah akan dibangun,” kata seorang warga sambil memandangi tanah yang sekarang sedang dikeruk Buldozer. “Bukan, hotel yang akan dibangun di sana,” balas kawannya. “Hotel? Sekolah dan taman tidak bisa dibangun. Nanti cahaya dan udara akan berkurang. Alangkah bodohnya, Kita harus protes!” Warga yang menginginkan pembangunan sekolah dan taman mengajukan protes. Ratusan lembar surat protes dilayangkan kepada Walikota.

“Apa ini? Protes dari warga. Mereka itu bodoh!” kata Walikota yang banyak sekali menerima surat protes. “Sekolah dan taman hanya akan makan biaya. Hotel lah yang akan memberikan keuntungan kepada kita,” lanjut Walikota sambil membuang semua surat protes ke tong sampah. Ia tak menanggapi protes warga.

Akhirnya hotel berdiri dengan megahnya di antara rumah petak warga kota. 



TAMAT