Sejarah Dunia Modern
Sumber:
Historie Bogan; The Hostory Books; La Historia Del Capitalismo; Sejarah Dunia Modern, INSAN (Institut Analisa Sosial), Kuala Lumpur, 1985.
I. Pengantar
1. Kisah ini diceritakan berdasarkan tulisan yang dibuat tigapuluh tahun yang lalu. Banyak orang sukar memahami pergolakan dunia saat ini. Mereka tidak paham mengapa terjadi pergolakan. Memang, mereka mendengar radio, menonton TV, membaca banyak buku, namun mereka masih juga gagal memahami perkembangan yang terjadi. Segala yang terjadi seolah-olah tidak ada kaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
2. Dengan demikian, guna memahami masalah tersebut, kita harus terlebih dahulu mempelajari sejarah. Tapi dunia ini terlalu luas dan sejarahnya terlalu panjang. Oleh karena itu, tentunya, rentang waktu kajian tersebut akan panjang sekali. Sekelompok pemuda di Swedia (Pal Rydberg, Gittan Jonsson, Annika Elmquist, Ann Mari Langemar, Carol Baum Schmorleitz, dan Rius) sepakat untuk mengkaji dengan teliti sejarah Eropa dan Afrika sepanjang 500 tahun yang silam. Kemudian, mereka mengunjungi setiap perpustakaan di kota-kota untuk mendapatkan buku-buku yang ada kaitan dengannya. Mereka terus menerus membaca sehingga berhasil mengumpulkan banyak catatan. Setelah itu, mereka mendiskusikan dan memperdebatkan catatan-catatan tersebut. Setelah sekian lama, maka pandangan mereka menjadi semakin jelas. Mereka kini mempunyai cukup bahan dan bersedia menjadikannya sebuah buku (termasuk dalam bentuk kartun) untuk diterbitkan. Tentu saja buku tersebut harus mudah dibaca, mudah dipahami, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Lalu mereka membuat kerangka buku tersebut menjadi: buku ringkasan sejarah.
3. Mereka pun menemui beberapa orang untuk merundingkan penerbitannya. Dengan banyak alasan, orang-orang tersebut menolaknya. Namun, akhirnya, ada juga orang yang membantu penerbitannya. Maka mereka pun menerbitkannya dan, di beberapa negeri, sudah diterjemahkan, bakan sudah difilmkan secara berseri. Ya, inilah buku tentang Sejarah Dunia Modern.
Pelajaran SEJARAH DUNIA MODERN untuk Anak-anak (2)
II. Perjalanan Para Pengembara
1. Kehidupan Eropa Tengah pada tahun 1400-an. Eropa Tengah terdiri dari beberapa kerajaan kecil, yang dipisahkan oleh hutan-hutan lebat. Rakyat di satu negeri tidak tahu menahu apa yang terjadi di negeri lain. Mereka tidak bisa dan tidak mau menjelajah menembus hutan belantara di sekeliling mereka untuk mengetahuinya, karena mereka takut binatang buas, hantu atau makhluk lain yang berbahaya. Rakyat hidup dengan berburu dan mengumpulkan bahan-bahan keperluan, di samping bercocok tanam dan beternak. Anak-anak tidak bersekolah karena sekolah belum lah ada. Tidak ada pekerja atau buruh pabrik karena pabrik belum lah ada. Yang ada hanyalah TANAH, tempat mereka tinggal dan bekerja. Kaum TANI, PETANI, mengerjakan tanah, para TUKANG yang mahir membuat alas kaki, bajak atau pakaian di pasar kecil; dan PEMBESAR atau PENGUASA NEGERI (biasanya bangsawan) tinggal di istana di dalam kota; sedangkan PADRI/PASTOR berkhotbah di gereja.
2. Petani dan tukang harus melakukan semua perkerjaan guna menyediakan semua keperluan hidup seperti makanan, pakaian dan kediaman. Namun, walaupun penguasa negeri tidak bekerja, mereka bisa memiliki makanan yang banyak, pakaian yang indah, dan tempat tinggal yang nyaman. Mengapa begitu? Itu karena penguasa negeri dan padre MENGUASAI TANAH. Petani dan tukang (yang mahir) terpaksa membayar CUKAI, PAJAK, atau UPETI yang tinggi kepada penguasa negeri dan padri agar diperbolehkan tinggal dan bekerja di atas tanah tersebut. Pada awalnya, cukai, pajak, atau upeti tersebut dibayar dengan gandum, susu, daging, sepatu, pakaian atau senjata.
3. Tidak banyak rakyat yang menggugat perkara tersebut, karena penguasa negeri memiliki dan menguasai sejumlah tentara bersenjata, yang senantiasa bersedia menghancurkan siapa saja yang memberontak; Padri menakut-nakuti rakyat dengan kutukan bahwa bagi mereka yang enggan membayar cukai, pajak atau upeti, akan disediakan neraka.
4. Maka terbentuk lah KELAS dalam masyarakat tersebut yang disebut: PETANI dan TUKANG adalah KELAS YANG TIDAK MEMILIKI ATAU TIDAK MENGUASAI TANAH; sedangkan penguasa negeri (sekali lagi, biasanya bangsawan) dan padre adalah KELAS YANG MEMILIKI ATAU MENGUASAI TANAH. Patut atau layak kah kelas yang tidak memiliki atau tidak menguasai tanah harus membayar cukai, pajak atau upeti kepada kelas yang memiliki atau menguasai tanah? Coba kita renungkan penjelasan-penjelasan di bawah ini:
Steven: Umurku 11 tahun. Cukai, pajak atau upeti sudah ada sejak dahulu kala. Aku tidak bisa membayangkan keadaan di mana cukai, pajak atau upeti tidak ada atau tidak dikenakan kepada kami;
Soren: Umurku 29 tahun. Kalau tidak ada kelas yang memiliki atau menguasai tanah, maka kami mungkin tak akan memiliki pekerjaan.
Seorang ibu: Umurku 64 tahun. Kakek aku bodoh, beliau memberontak. Dia menghasut agar semua orang tak membayar cukai, pajak atau upeti. Kebetulan negeri kami sedang mengalami kesulitan pada tahun itu. Apa faedah yang diperolehnya? Dia digantung oleh tentara pemerintah dan Padre mengatakan bahwa dia akan masuk neraka.
Permaisuri: Umurku 34 tahun. Berani-beraninya mereka mendurhakai? Bukan kah tanah ini punyaku—karena itu aku berhak memberlakukan atau mengenakan cukai, pajak atau upeti kepada mereka?
Padri: Umurku 57 tahun. Kaya dan miskin adalah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki mereka membayar cukai, pajak atau upeti kepada kami.
5. Kini datang pula para pengembara atau pedagang ke negeri atau daerah ini, dengan kereta kuda yang sarat muatan. Mereka menuju istana—apa yang diperbuatnya di sana? Apa yang dibawanya di kereta kuda dipamerkannya kepada penguasa negeri. Mereka menunjukkan lada hitam yang, bila dibalurkan pada daging, maka dagingnya tak akan mudah busuk, bisa disimpan selama satu tahun. Mereka juga menunjukkan benda-benda yang terbuat dari kaca, seperti mangkuk, gelas dan lain sebagainya. Mereka itulah yang disebut saudagar atau pedagang. Mereka menginginkan barang-barangnya dipertukarkan dengan barang-barang milik penguasa negeri—seperti telur, mentega, manisan, kerajinan tangan (pedang, pakaian bulu kambing, dan lains sebagainya). Pedagang melihat bahwa barang-barang yang dimiliki oleh para penguasa negeri tersebut akan sangat laku (dan menguntungkan) bila dijual atau dipertukarkan di Venesia (Italia). Begitulah: para pembesar atau penguasa negeri membeli (atau menukarkan) banyak barang dari para pedagang dan membayarnya dengan harta yang diperoleh dari rakyat yang tidak memiliki tanah.
6. Para pembesar atau penguasa negeri sering mengadakan pesta-pesta kerajaan; dan para pedagang meneruskan perjalanan (kerja) nya. Para pedagang menganggap bahwa para penguasa negeri sangat bodoh—mereka hanya mementingkan soal pakaian, makanan, dan hiburan; sebenarnya mereka kaya tapi mereka tidak bijak menggunakan kekayaannya seperti pedagang. Namun, para pedagang sering mendapat gangguan (yang dapat mengurangi keuntungannya) dari para penguasa negeri: mereka sering dicegat di jalan oleh tentara penguasa negeri dan diwajibkan membayar pajak perjalanan kepada penguasa negeri.
7. Pedagang, yang tidak mempunyai hak di negeri tersebut, karena tidak memiliki tanah, tidak mau menjadi petani atau tukang. Kerja pedagang semata-mata membeli dan menjual. Bagaimana bisa mereka bisa maju dengan usaha seperti itu. Itu karena pertukarannya tidak adil—lada hitam, yang sangat sulit didapatkan di satu daerah, tapi mudah didapatkan di Venesia, dipertukarkan secara tidak adil. Beli murah, jual mahal! Menjualnya dengan nilai berkali lipat dari membelinya. Tak ada yang bisa menghalang-halangi para pedagang mencari untung. Yang diperlukan oleh mereka hanyalah CARA dan UANG.
8. Para pedagang di Venesia memiliki banyak uang. Uang tersebut disebut sebagai MODAL. Modal digunakan untuk membeli barang-barang yang mahal dari para pedagang Arab. Barang-barang berharga tersebut dibawa dari Cina, India, Arab dan Afrika. Para pedagang menjelajah ke seluruh negeri Eropa, menjual dan menukarkan barang-barang mereka. Mereka memiliki barang-barang dagangan yang luar biasa—baru dan indah—dan para penguasa negeri sanggup membayaranya berapa saja yang dihargai para pedagang. Setiap kali para pedagang pulang ke Venesia, mereka menjadi semakin kaya, dan modal mereka semakin bertambah—sehingga bisa membeli lebih banyak barang untuk dijual dan dipertukarkan. Semakin banyak yang dijual, semakin banyak pula uang mereka, juga modal mereka. Karena kebijakannya menggunakan uang, mereka tak pernah kehabisan uang, malah modalnya semakin bertambah terus. Menurut mereka, menjadi “pemodal” atau KAPITALIS adalah benar, enak dan indah.
9. Para pemodal di Venesia terus mengusahakan perniagaan mereka yang semakin maju. Mereka tidak mau orang lain juga berlaku seperti mereka atau mengikuti mereka. Para pedagang Portugis mengadakan kesepakatan secara sendiri-sendiri, tak mau mengajak pedagang negeri lain atau, bila bisa, tak mau bergabung dengan pedagang negerinya sendiri. Mereka berusaha mencari jalan agar mereka sendiri bisa langsung mendapatkan barang-barang dagangan tersebut dari India. Mereka mencari cara untuk berlayar ke India dan Cina agar bisa mendapatkan barang-barang dagangan tersebut langsung dari sumbernya, tujuannya adalah untuk mengalahkan pesaing mereka—para pedagang Venesia. Rencana tersebut membahayakan karena belum pernah, sebelum ini, ada yang berlayar begitu jauh. Bagi mereka itu tidak jadi soal. Masalahnya: siapa yang akan membiayai mereka. Maka mereka memohon agar kerajaan dapat membiayainya—yang mereka minta dari kerajaan adalah uang, kapal, sedikit emas dan barang-barang lain yang bisa dipertukarkan. Sebagai imbalan bagi kerajaan, mereka menjanjikan berbagai persembahan. Raja menyetujuinya. (Dari mana datangnya uang dan berbagai barang yang dipersembahkan kepada para pedagang tersebut? Tentu saja dari rakyat yang tidak bertanah; dipersembahkan pada raja karena raja yang memiliki dan menguasai tanah!) Sungguh aneh: rakyat jelata datang ke pelabuhan untuk mengucapkan selamat jalan; awak kapalnya pun terdiri dari orang-orang miskin yang gagah berani. Maka berlayarlah Vasco De Gama menuju ke tempat yang belum diketahui.